Minggu, 09 Oktober 2016

Judulnya di Sub Judul

Sub Judulnya Nge-Gembel Asik di Gunung
Sebenernya ini adalah segumpal dongeng yang nggak lebih dari sekedar curhatan ketika nggembel di gunung beberapa bulan lalu. Sebut saja dia Argopuro, cari namanya di beberapa mesin pencarian internet, pastilah akan kamu temui kata kata “trek terpanjang se-Jawa”. Iya iya aku tau, aku bukan maksud ada pamer mau nulis cerita semacam gini, cuman rasanya hatiku gatel sekali nggak ngebocorin keindahan alam semesta ini padamu. Hari ini, kemarin dan kemarinnya aku habis baca novelnya ayah Pidi Baiq, sebut saja Dilan, seorang makhluk yang ayah Pidi ciptakan barangkali untuk membuat seluruh umat wanita menginginkannya, mengeluh-eluhkannya, jujur saja akupun begitu. Kamu baca sendiri aja, karena kalau aku yang cerita nanti aku bisa dibayar ayah karena edors tak resmi, kan asik jadinya. Ayah maafkan aku pinjem sedikit gaya penulisan milik Dilan.
Kini kita fokus saja kepada alam semesta yang sudah kujanjikan untuk kuceritakan semenjak bulan bulan yang lalu tapi tak kunjung ada kemauan menulisnya. Sudah kamu cari Argopuro? Barangkali sudah banyak cerita yang mendongengkan Gunung yang satu itu. Memang dia Gunung dengan trek terpanjang se-Jawa. Aku tak habis pikir siapa yang udah ngukur trek tersebut pertama kali. Kalau semeru aja tingginya 3676 mdpl, kamu bisa tebak Gunung ini tingginya berapa? Iyasih cari lagi di mesin internet udah banyak, jadinya nggak usah di dongengin lagi. Begitu pula dengan cerita lain yang udah udah. Aku nggak bakal ngasih tau lagi atau cerita lagi, biar apa? biar aku nggak capek J
Kalau kamu ambil jalan dari Bremi (daerah ini terletak di Probolinggo) maka kamu akan ketemu gapura warna kuning dengan tulisan yang menonjol, kayanya sengaja dibuat begitu, karena yang menonjol sering diingat katanya, Tulisannya maksudku, bukan yang lain. “SELAMAT DATANG DI TAMAN HIDUP”, yang jomblo jangan baper dan jangan pernah menyebutnya “TEMAN HIDUP”, karena tulisan itu mungkin udah di tasyakuri jauh jauh hari, jadi jangan demo untuk merubahnya jadi teman hidup kalian. Begitu udah disambut gapura hits tersebut, maka yakinlah kalau kamu akan segera capek karena trek yang di lalui bukan lagi aspal atau jalan lebar selebar dahi kamu. Kamu ketemu rumah-rumah orang beserta orangnya, ketemu sawah, dan tentu saja ketemu pohon-pohon tinggi yang hijau , rimbun, seger sekali rasanya. Kamu tau kenapa orang lebih suka nanyain “kenapa kamu suka naik gunung?” ketimbang buat pernyataan “aku ikut naik gunung” mungkin jawabannya karena mereka nggak pernah di beri dongeng tentang bau-bauan alam yang beda sama bau-bauan gedung kota beserta nafas kehidupan kota, atau mereka jarang sekali mendengar betapa dinginnya hawa gunung itu beda dengan dingin AC dimana mana, atau lagi karena akunya yang salah nggak pernah bisa ngegambarin kenapa gunung itu selalu menarik, jauh lebih menarik dari hanya sekedar nggak jomblo lagi, jauh. Mau bagaimanapun itu adalah subjektif, kalau kata bu Tika dosen mmik, artinya pandanganku dan pandanganmu adalah berbeda. Maka maklumilah. Batu kasar, bentuknya besar, licin, ah aku mah nggak pernah berbakat menggambarkan suasana yang barang kali itu ‘real’, hanya saja kulakukan semata-mata biar kamu mencari sendiri kebenarannya dengan ikut bersamaku lain kali. (baca : nyari temen daki sebenernya. Haha)
Sekitar bermeter meter kamu akan ketemu jalan tanjakan yang makin lama nanjaknya makin nggak beraturan. Cuma, tanjakan-tanjakan yang aku lewati selama ini semata nggak berasa nanjak karena aku punya teman yang benar-benar bisa mengajakku untuk terus berjalan dan berproses. Kali ini kusebut mereka 3 suami temen di bumi argopuro. Aku nggak murka, tapi salahkan mereka yang hanya mengijinkan aku ikut, sementara populasi wanita di dunia ini lebih banyak daripada mereka. Berempat seperti barisan boyband kami menyusuri hutan tropis milik argopuro, banyak bunyi-bunyian burung, banyak angin-angin yang lewat, dan tentu saja banyak cowok ganteng yang ‘kintil’ lewat juga. Kamu tau hutan di Game Tarzan, jangan jauh jauh ngebayangin hutan yang lain, karena hutan yang seperti itu udah pas buat di taruh di imajinasi yang kamu buat. Hutan di filmnya ‘King Kong’? jangan kufikir itu terlalu horror, apalagi hutan milik film ‘Jurasic Park’, haha jangan dibayangin, ntar kamu jatuh cinta sama dinosaurus.
Setelah melewati hutan macam itu akhirnya sampailah kita di taman hidup. Taman surganya gunung argopuro, katanya sih begitu. Berangkat dari jam 10, baru mendekati taman ini sekitar jam 1, mungkin buatku lumayan lama, nggak tau buat Tarzan. Begitu kaki udah menginjak rumput basah taman hidup, tubuh rasanya seolah pengen cepet cepet rebahan di situ langsung, sayang hari hujan membuat sekitaran taman itu waktu itu penuh dengan susu coklat rasa hambar lumpur yang becek. Langsung kami bergegas mendirikan tenda mengingat waktu ashar dan malam sebentar lagi menyapa. Dengan dibumbui cekikikan dan ngomong ngalor-ngidul yang nggak karu-karuan, akhirnya tenda beserta santapan makan sore kami sudah siap. Makan bersama adalah adat yang nggak mungkin dilewatkan begitu saja saat naik gunung. Bisa dibilang meski temen-temenku maunya makan enak digunung, mereka tetep ngintilin mie instan dibarengi endok enak empuk. Seperti halnya masalah BAB, meski tau dia akan datang setelah kita makan, tetep aja makan nggak bisa ditinggalin. Aku jadi inget ada temenku yang nanya “Gimana kalau BAB di gunung? Pipis di gunung? Kan kita nih cewe?” spontan sebenernya aku ngakak. Dulu atau sekarang meski aku bukan bocah yang punya ilmu survive di alam anak gunung, aku pun tau kalau pipis dan kawan-kawannya hanya dilakukan dengan jongkok dan selesai, lalu apa masalahnya :D Kata ayah pidi (lagi) ‘masalah adalah apa yang kamu anggap masalah’. Jadi kalau kamu jijik mau mengganti air dengan tisu basah kukira itu masalahmu, bukan masalahku hahah. Kalau aku nggak jijik, jadi karna menurutku di tisu basah itu ada airnya meskipun dikit, kalo nggak ada airnya juga namanya bukan tisu basah. Kamu tinggal nyari tempat yang banyak semak belukar aja, dan nyari temen buat nganter juga, kan ngga mungkin sendirian, ntar takut, kan wanita ditakdirkan seperti itu, jangan sok kuat-katanya laki-laki.
Malam adalah saat yang tepat untuk kami melaksanakan agenda tidur, dan menurutku kalau kamu berfikiran aneh-aneh maka kamu nggak akan bisa tidur, tidur bareng cowok misalnya. Orang banyak tau luar dan ceritanya doang, padahal setenda bareng cowok juga aman-aman aja, kan pake SB masing-masing. Kamu harus tau bahwa naik gunung harus berfikiran positif terus.
Setelah melaksanakan subuhan, kami berencana bersih-bersih dan melanjutkan jalan lagi. Percayalah cerita ini panjang. Aku nggak tau padahal udah aku singkat. Dengan mengambil air di taman hidup, aku jadi tau bahwa saat itu taman hidup hampir mirip kotakan sawah di pinggir rumah. Bukan maksudku menyamakan taman surga dengan sawah, tapi itu apa adanya. Mungkin karna efek hujan yang membuat becek ada dimana-mana. Meski penampakan itu super nyata, hal itu sama sekali nggak ngurangin jumlah temen-temen pendaki yang ngantri buat foto di gubuk legenda taman hidup. Aku pengen, tapi ntar aja katanya kalau balik lagi kesini dan udah bagus aja, hehehe.

aku nggak berani bohong hahah

Taman hidup adalah saksi bisu kami yang keliatan sangat kelaparan ketika kami melewati jalan setapak yang di pinggir-pinggirnya banyak tenda dengan mas-mas yang lagi masak-masakan. Sengaja emang kami nggak makan untuk melanjutkan perjalanan kami. Setelah pemandangan tersebut berlalu, kini hutan dingin, adem, seger dan sepi kembali menyapa kami. Kalau di lihat diatlas namanya adalah ‘Hutan Lumut’, coba dicari hahah. Nggak sampai setengah perjalanan kami berhenti untuk ambil air, aku nggak tau kenapa waktu itu meski airnya bau tetep kami minum :D mungkin biar kuat, aku lupa.
Sekitar jam 12an kami sampai di Dataran Tinggi Hyang, istirahatlah kami, karna kami tau bahwa kaki ini ada untuk membantu kami berjalan dan karna itu mereka harus istirahat untuk tetap membantu kami.

minta dipisah karna banyak...
(nanjaknya 5-8 Mei, nulisnya hari ini)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar